Xi Jinping Diramal Siap Kobarkan Perang Baru, Tandanya Jelas

Dalam gambar yang diambil dari rekaman video yang dijalankan oleh CCTV China, Presiden China Xi Jinping berbicara selama peringatan resmi untuk mendiang mantan Presiden China Jiang Zemin di Aula Besar Rakyat di Beijing pada Selasa, 6 Desember 2022. (CCTV via AP)

Presiden China Xi Jinping diramal akan memulai perang baru pada dekade ini. Peperangan ini terkait Taiwan, di mana Beijing terus menyatakan ketidakpuasannya pada sikap Taipei yang terus mencari pengakuan dan hubungan internasional.

Peneliti dan penulis Jonathan D.T. Ward mengatakan potensi ini makin tinggi semenjak Presiden Taiwan Tsai Ing Wen mengunjungi Amerika di tengah panasnya hubungan China dan rival sekaligus pendukung Taipei, Amerika Serikat (AS).

“Dunia telah menyaksikan satu rezim otoriter mengobarkan perang melawan tetangga yang demokratis,” ujarnya dalam bukunya yang berjudul The Decisive Decade and China’s Vision of Victory yang, dikutip Express, Senin (3/4/2023).

“Di Ukraina, pembunuhan wanita dan anak-anak, penggunaan amunisi flechette pada warga sipil, dan penghancuran blok apartemen, rumah sakit, dan kota-kota oleh militer Rusia telah menunjukkan kepada dunia satu sisi dari kemitraan strategis komprehensif Rusia-China untuk era baru.”

China menganggap bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya. Di sisi lain, pemerintahan di Taipei menganggap bahwa wilayah itu merupakan suatu wilayah yang merdeka sendiri dengan asas demokrasi.

Sebagian besar negara dunia, termasuk AS, juga menyatakan sikapnya sebagai negara yang mengakui prinsip ‘Satu China’ dan tidak mengakui Taiwan secara diplomatik. Meski begitu, AS dan kekuatan sekutu Baratnya terus memberikan dukungan pada pemerintahan Taipei.

Serangan kepada Taiwan dari China sendiri bukanlah merupakan isu yang baru-baru terangkat. Pada 2021, Menteri Pertahanan (Menhan) Taiwan, Chiu Kuo Cheng memprediksi invasi Beijing ke wilayah itu akan terjadi pada 2025 mendatang.

Dengan situasi tersebut, Ward mengungkapkan bahwa kelompok negara merdeka dan demokratis seperti AS harus mengambil sikap membela Taiwan. Menurutnya, hal ini diperlukan untuk mengantisipasi konflik Pasifik di masa depan.

“Patologi Partai Komunis China tidak akan tinggal di dalam Republik Rakyat China kecuali dibendung oleh AS dan sekutu,” tambahnya.

Sementara itu, Ward juga menuliskan bahwa bila Presiden Taiwan Tsai jadi bertemu Ketua DPR AS Kevin McCarthy dalam waktu dekat, ini akan menjadi poin krusial dalam memburuknya hubungan AS-China. Meski begitu, atas nama nilai demokrasi, Ward meminta AS terus mendukung Taipei

“Namun, AS harus tetap setia pada nilai-nilainya dan konsisten dalam mendukung Taiwan, demokrasi China, yang memberikan tandingan langsung terhadap kekejaman hak asasi manusia dan totalitarianisme yang berkembang di Beijing,” katanya.

“Dukungan militer dan diplomatik untuk Taiwan sangat penting bagi strategi AS di Asia sejak awal Perang Dingin. Bersama-sama kita telah melewati banyak krisis di Selat Taiwan, yang dimulai selama beberapa dekade oleh tindakan militer Beijing. Keamanan Taiwan sangat penting untuk keamanan militer yang lebih luas Asia, termasuk Sekutu seperti Jepang dan Korea,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*