Warren Buffet Bantu SVB Cs, Ternyata Ada Udang di Balik Batu

Infografis/Gokil!! Dari perusahaan cokelat, warren buffett cuan 8000%/Aristya Rahadian

Investor legendaris Warren Buffett tidak kebal dari efek krisis perbankan yang dialami Amerika Serikat (AS) baru-baru ini. Ini karena sejumlah portofolio saham bank Buffett terkoreksi sepanjang tahun ini.

Sebagaimana diketahui, investor asal Omaha tersebut menggenggam beberapa saham sektor finansial, seperti Bank of America (BAC), Ally Financial (ALLY), Bank of New York Mellon (BK), dan U.S. Bancorp (USB).

Secara umum, Buffett, via perusahaan investasinya Berkshire Hathaway (BRKB), mengalami kerugian di atas kertas senilai US$12,6 miliar atau setara dengan Rp193,41 triliun (kurs Rp15.350/US$) lantaran 15 saham AS miliknya berkinerja jeblok sepanjang tahun ini.

Dari 15 saham dengan kinerja terburuk terburuk tersebut, 6 di antaranya merupakan sektor keuangan.

Saham U.S. Bancorp, misalnya, anjlok 26,19% selama 2023 (YtD), Bank of America alias BofA turun tajam 16,98%, Ally Financial merosot 8,72%, dan Bank of New York Mellon terjungkal 8,03%.

Asal tahu saja, saham BofA menjadi saham salah satu saham top losers Berkshire tahun ini. Penurunan harga saham selama 2023 setara dengan US$4 miliar (Rp61,40 triliun).

Penurunan BofA berpengaruh besar terhadap portofolio Buffett lantaran Berkshire menjadi pemegang saham terbesar di bank tersebut, sebesar 12,6%, di atas raksasa ETF Vanguard 7,6%

Untungnya, Buffett sudah mengurangi porsi saham di sejumlah bank akhir-akhir ini. Berkshire, misalnya, hanya memiliki kurang dari 1% saham U.S. Bancorp, setelah mulai menjual saham bank tersebut pada tengah tahun lalu.

Demikian pula, Berkshire hanya menggenggam 3,1% saham Bank of New York Mellon. Berkshire sudah mengurangi posisi di bank tersebut sejak 2018.

Walaupun, memang, Berkshire Hathaway masih memiliki hampir 10% Ally Financial.

Mengutip Bespoke Investment Group, dilansir dari Investor’s Business Daily (17/3), di tengah kisruh Silicon Valley Bank (SVB) hingga First Republic Bank, kapitalisasi pasar (market cap) perbankan AS pun anjlok US$500 miliar (Rp7.675 triliun). Sebagaimana disebut di atas, Berkshire sendiri merupakan salah satu pemegang saham terbesar di antara bank-bank tersebut.

“Dari 6 Maret hingga 15 Maret, kapitalisasi pasar total (bank) turun 11,4%,” kata Bespoke.

Bespoke melanjutkan,”Untuk rentang waktu itu, hanya periode selama krisis keuangan global pada tahun 2008, kekacauan plafon utang 2011, mengambangnya yuan China pada 2015, dan guncangan Covid yang mengalami penurunan yang lebih besar. Singkatnya, ini adalah penurunan nilai pasar saham bank bersejarah, meskipun jauh dari yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Buffett Kontak Gedung Putih

Buffett disebut telah mengadakan diskusi dengan pejabat administrasi senior Presiden AS Joe Biden tentang krisis perbankan yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat.

Informasi ini diperoleh oleh sumber yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters pada hari Sabtu, (18/3/2023).

Gedung Putih dan Departemen Keuangan AS menolak berkomentar atas hal ini. Sebelumnya, Buffett dilaporkan telah menghubungi pejabat administrasi dalam beberapa hari terakhir tentang krisis perbankan regional.

Meski begitu, tidak ada informasi lebih soal isi diskusi antara Buffet dan gedung putih tersebut

Di samping itu, regulator AS meluncurkan langkah-langkah luar biasa untuk meredakan kepanikan akhir pekan lalu, AS berjanji untuk membayar penuh simpanan yang tidak diasuransikan di bank yang gagal. Namun, saham di bank regional terus turun minggu ini di tengah kekhawatiran akan efek domino SVB.

Tim Biden, yang mewaspadai pukulan balik politik, telah merencanakan cara untuk tidak mengeluarkan dana bantuan langsung dari pembayar pajak, termasuk tindakan Federal Reserve.

Bank-bank besar AS secara sukarela menyetorkan US$30 miliar untuk menstabilkan First Republic Bank minggu ini.

Investasi atau intervensi apa pun dari Buffett atau tokoh lain akan akan sangat membantu, pasalnya AS tengah berupaya membendung krisis tanpa dana talangan langsung.

Mengutip laman South China Morning Post, Buffett memiliki sejarah panjang dalam membantu bank yang sedang dalam krisis. Ia memanfaatkan status investasi dan bobot finansialnya untuk memulihkan kepercayaan pada perusahaan yang sakit.

Misalnya, Buffett sempat menyuntikkan modal ke Bank of America pada tahun 2011, setelah sahamnya anjlok di tengah kerugian yang terkait dengan subprime mortgage.

Buffett juga memberikan bantuan sebesar US$5 miliar kepada Goldman Sachs pada tahun 2008 untuk menopang bank setelah keruntuhan Lehman Brothers.

Kini, Runtuhnya Silicon Valley Bank dan Signature Bank bulan ini telah mengguncang kepercayaan pada sistem perbankan dan mendorong aksi jual saham perbankan besar-besaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*