Istri Pejabat Setneg Impulsif Beli Mobil Rp 407 Juta, Wajar?

MG 5 GT

 

Setelah Jeep Rubicon, sedan MG GT 5 langsung viral usai istri pejabat Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) yang memperlihatkan nota pembelian mobil tersebut. Berdasarkan informasi dari situs resmi MG, harga mobil sedan tersebut ternyata mencapai Rp 407,9 juta.

Menurut pemberitaan Detik.com, buntut dari viralnya aksi tersebut membuat sang suami yang menjabat sebagai Kasubag Administrasi Biro Umum Kemensetneg, Esha Rahmansyah Abrar, langsung dinonaktifkan sementara dari jabatannya.

Kemensetneg juga mengumumkan bahwa mereka akan berkoordinasi dengan KPK PPTAK untuk mengusut harta tak wajar Esha.

Seperti diketahui, berdasarkan postingan di Instagram Story istri Esha, dirinya mengaku kepincut dengan mobil berwarna kuning dilihatnya di jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dan dia pun membelinya secara impulsif atau tanpa perencanaan.

Berkaca pada peristiwa ini, membeli aset senilai ratusan juta secara impulsif bukanlah hal yang bijak bagi masyarakat yang memiliki penghasilan pas-pasan, apalagi jika asetnya adalah aset terdepresiasi seperti mobil.

Menilai wajar atau tidaknya seorang istri pejabat membeli mobil tersebut secara impulsif, maka semuanya harus dilihat secara rinci dari penghasilan yang diterima.

Gaji Rp 25 juta sebulan bisa tapi tergolong maksa

Mari kita lakukan perhitungan kredit mobil MG GT5 dengan rincian:

– Uang muka (DP) 20% dari harga mobil

– Bunga pinjaman 6,8% per tahun (flat)

– Biaya asuransi 5% dari harga mobil

– Biaya polis asuransi Rp 40 ribu

– Biaya provisi 0,5% dari plafon kredit

– Biaya administrasi Rp 700 ribu

Maka berapakah estimasi pengeluaran orang tersebut untuk pembayaran pertama sekaligus cicilan bulanannya. Jika dia ingin mengambil tenor lima tahun atau 60 bulan? Berikut adalah rincian pengeluarannya.

Untuk pembayaran pertama, tentu saja pembeli harus mengumpulkan uang Rp 111,6 juta terlebih dulu.

Bila gaji pembeli adalah Rp 25 juta per bulan maka dia harus mengalokasikan uang sebesar 37% dari gajinya setiap bulan selama setahun (Rp 9,3 jutaan) untuk mengumpulkan uang Rp 111,6 juta.

Setelah pembayaran pertama lunas, maka setiap bulannya dia harus mengangsur Rp 7,2 juga. Besaran ini sejatinya masih ideal, lantaran cicilan maksimal yang bisa diambil seseorang adalah 30% dari penghasilan.

Akan tetapi ketahuilah bahwasannya, Rp 7,2 juta sudah setara dengan 29% dari Rp 25 juta. Ketika seseorang mengambil konsumtif sebesar 29% dari penghasilan, maka dipastikan orang yang bersangkutan tidak diperkenankan lagi untuk mengambil fasilitas cicilan atau pembiayaan lain.

Alasan dari semua itu disebabkan karena semakin besar cicilan maka semakin besar pula kewajiban yang harus dibayarkan.

Dan hal itu tentu akan semakin mengurangi kemampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menabung atau berinvestasi.

Oleh karena itu, dari perhitungan ini, mereka yang bergaji Rp 25 juta pun masih dianggap terlalu memaksa jika mereka ingin membeli mobil seharga Rp 407 juta ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*