Ini Alasan Dibalik Akuisisi Credit Suisse Oleh UBS

A sign of Credit Suisse bank is seen on the branch building in Geneva, on March 15, 2023. - Credit Suisse shares nosedived on March 15, 2023, after its main shareholder said it would not provide more funding, with reassuring comments from the Swiss bank's chairman unable to calm the market panic. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Bank terbesar Swiss UBS setuju untuk mengakuisisi saudara satu negara yang bermasalah Credit Suisse senilai US$ 3,25 miliar (Rp 49 triliun) yang akan dibayarkan dengan saham UBS kepada pemegang saham Credit Suisse.

dalam kesepakatan (all share) ini, Credit Suisse dihargai 0,76 Swiss Franc (SFr) atau jauh lebih kecil dari harga penutupan perdagangan Jumat (17/3) pekan lalu di angka SFr 1,86.

Kesepakatan antara dua pilar utama layanan keuangan Swiss ini adalah megamerger pertama bank global yang dianggap penting secara sistemik sejak krisis keuangan 2008 ketika institusi keuangan¬†bermasalah seringkali dipaksa ‘kawin’ atas perintah regulator.

Pemerintah Swiss mengatakan akan menyediakan lebih dari US$ 9 miliar (Rp 135 triliun) untuk menutupi beberapa kerugian yang mungkin timbul atas akuisisi Credit Suisse. Bank Nasional Swiss juga menyediakan likuiditas lebih dari US$ 100 miliar kepada UBS untuk membantu memfasilitasi kesepakatan tersebut.

Urgensi di pihak regulator dipicu oleh prospek yang semakin mengerikan di Credit Suisse. Bank menghadapi arus keluar pelanggan sebanyak $10 miliar per hari minggu lalu, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut.

Proses kilat megamerger perbankan global ini terjadi karena regulator khawatir kegagalan Credit Suisse dapat menjadikan Swiss sebagai sumber baru penularan krisis perbankan global. Beberapa jam setelah kesepakatan UBS, WSJ melaporkan sekelompok bank sentral, termasuk Federal Reserve dan Bank Nasional Swiss, mengumumkan jalur pertukaran dolar yang diperluas, sejenis operasi pinjaman internasional. Mereka menyebut ekspansi itu sebagai “pendukung likuiditas penting untuk meredakan ketegangan di pasar pendanaan global.”

Pimpinan Credit Suisse Axel Lehmann mengatakan masalah bank baru-baru ini yang dimulai di AS terlalu berat untuk ditahan. “Percepatan hilangnya kepercayaan dan kondisi yang semakin memburuk dalam beberapa hari terakhir memperjelas bahwa Credit Suisse tidak dapat terus eksis dalam bentuknya saat ini,” katanya.

Runtuhnya Silicon Valley Bank secara tiba-tiba awal bulan ini mendorong investor global mencari titik lemah dalam sistem keuangan. Credit Suisse sejatinya telah menjadi yang pertama dalam banyak daftar institusi bermasalah, dilemahkan oleh skandal selama bertahun-tahun dan kerugian perdagangan, terutama kegagalan dua klien utama pada tahun 2021, Greensill Capital dan Archegos Capital Management.

Terlepas dari perubahan eksekutif berulang kali dan janji untuk melakukan reformasi, investor masih ragu akan kapasitas Credit Suisse melewati rintangan yang semakin berat dalam era suku bunga tinggi.

Manajemen baru bank yang diangkat tahun lalu, banyak dari mereka berasal dari UBS, mencoba kampanye jaminan di antara pelanggan dan menjanjikan restrukturisasi yang akan mengubah keadaan bank.

Credit Suisse sebenarnya akhir tahun lalu baru saja mengumpulkan US$ 4 miliar dalam bentuk ekuitas baru yang sekitar 75% berasal dari dua investor timur tengah yakni Saudi National Bank dan Otoritas investasi untuk membiayai perombakan besar-besaran. Tetapi pelanggan berbondong-bondong melarikan diri dan menarik aset senilai US$ 120 miliar pada bulan terakhir tahun 2022.

Harga saham dan obligasi jatuh bebas, Credit Suisse mengambil bantuan senilai US$ 54 miliar dari Bank Nasional Swiss Kamis lalu. Menteri keuangan Swiss, Minggu, mengatakan batas likuiditas dinaikkan dua kali lipat pada hari itu untuk memastikan bank dapat bertahan hingga akhir pekan.

Tetapi pejabat Swiss, bersama dengan regulator di AS, Inggris, dan Uni Eropa, yang semuanya mengawasi sebagian entitas Credit Suisse yang beroperasi secara global, khawatir bank tersebut akan bangkrut minggu ini jika tidak ditangani, dan mereka khawatir kepercayaan yang runtuh dapat menyebar ke bank lain.

Regulator memberikan dua pilihan: pengambilalihan atau kebangkrutan. Kebangkrutan akan menjadi kekacauan yang berlarut-larut, dan eksekutif UBS dikabarkan khawatir hal itu akan mencemari reputasi perbankan Swiss.

Pada hari Minggu, ada upaya terakhir oleh konsorsium pemegang saham terbesar Credit Suisse, termasuk Saudi National Bank, demi mempertahankan bank bermasalah tersebut untuk tetap hidup, menurut keterangan sumber. Konsorsium tersebut membuat proposal tandingan untuk menyuntikkan sekitar US$ 5 miliar ke dalam Credit Suisse. Berdasarkan rencana tersebut, pemegang obligasi Credit Suisse akan terlindungi sepenuhnya.

Pejabat Swiss langsung menolak tawaran itu. Akan tetapi perlawanan oleh pemegang saham mampu menaikkan angka akuisisi. Proposal UBS yang sebelumnya bersedia untuk membayar sekitar SFr 1 miliar, akhirnya naik menjadi SFr 3 miliar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*