49% Warga RI Sandwich Generation, Ikuti 4 Hal Ini Biar Kaya

49% Warga RI Sandwich Generation, Ikuti 4 Hal Ini Biar Kaya

infografis-hujan-cuan-ini-11-saham-lq45-diam-diam-bisa-bikin-tajiraristya-rahadian-169

Meski Indonesia telah menginjak usia kemerdekaan selama 78 tahun, nyatanya masih banyak masyarakatnya yang belum merdeka finansial. Bahkan, banyak diantaranya yang masuk dalam golongan sandwich generation.
Menurut survei, 48,7% masyarakat produktif Indonesia merupakan generasi sandwich yang memiliki tanggungan finansial atas keluarganya. Survei tersebut dilakukan terhadap 1.828 responden usia produktif berusia 25-45 tahun yang tersebar di seluruh Indonesia pada September 2021.
Lebih lanjut, dari seluruh generasi https://303terpercaya.online/
sandwich di Indonesia hanya 13,4% yang memiliki kesiapan finansial dalam memenuhi pengeluaran pokok, menabung, dan berinvestasi.
Melihat fenomena ini, Marketing Alternate & Direct Business Group Head Astra Life Windy Riswantyo mengatakan, pihaknya memahami bahwa pemuda yang memasuki usia produktif memiliki banyak kebutuhan serta tujuan finansial baik pada jangka pendek, menengah atau jangka panjang.

“Untuk itu, kita berikan beberapa tips agar bisa memiliki ketahanan finansial untuk melanjutkan hidup diri sendiri dan keluarganya, khususnya dalam semangat HUT ke-78 Republik Indonesia ini,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi pada Kamis, (7/8/2023).

Jika ingin merdeka finansial, anda bisa mengikuti 4 tips perencanaan keuangan berikut ini:

1. Tidak hanya hidup dari gaji ke gaji
Rumus paling dasar dalam mengelola keuangan adalah pendapatan harus lebih besar dari pengeluaran. Maka, penting agar segera mengalokasikan pengeluaran sesaat setelah anda menerima gaji.

“Hal yang umum dilakukan untuk menyisihkan alokasi gaji adalah, 30% – 50% biaya hidup, hutang maksimal 30%, tabungan dan investasi minimal 10%, dan proteksi sekitar 10%. Metode alokasi bujet tersebut dapat membantu mengatur keuangan lebih teratur,” tuturnya.

Sementra itu, bila selisih pendapatan dan pengeluaran kebutuhan hampir sama, anda perlu mempertimbangkan untuk mengasah kemampuan baru yang bisa menunjang karir atau menghasilkan pemasuka tambahan.

2. Sisihkan bukan sisakan
Kebiasaan “ngopi” setiap hari, biaya parkir, hingga biaya langganan streaming film bisa menjadi salah satu penyebab ‘bocor halus’ di keuangan. Maka, penting bagi anda agar bisa membuat skala prioritas yang mana yang untuk ditabung dan mana untuk belanja.

Lebih dari itu, Windy mengatakan, bocor halus juga terjadi akibat tekanan sosial atau FOMO (fear of missing out) di kalangan generasi sandwich. Hal ini bisa berupa keinginan nonton konser musik bergengsi, ganti smartphone terbaru, atau restoran viral.

“Tidak ada salahnya untuk FOMO, namun tetap dalam batas wajar sesuai dengan skala prioritas,” jelasnya.

3. Bayar untuk masa depan
Satu hal yang harus dicatat, kebutuhan hidup tidak hanya perlu dikeluarkan untuk hari ini, namun sebagai bekal untuk masa depan. Maka, penting untuk mengalokasikan pendapatan untuk pemenuhan dana darurat sebesar 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan.

Hal ini bisa dilakukan melalui instrumen proteksi, dan investasi. Windy menilai, sebelum berinvestasi penting untuk memiliki proteksi.

“Proteksi penting untuk mengamankan kondisi finansial dari risiko kehidupan seperti, sakit atau sakit keras yang mengancam income hingga tutup usia di usia produktif,” kata dia.

Di zaman sekarang, berbagai instrumen proteksi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan, salah satu produk Astra Life ada yang mengcover perlindungan risiko tutup usia dengan uang pertanggungan (UP) hingga Rp5 miliar lengkap dengan perlindungan terhadap risiko COVID-19.

Sementara untuk instrumen investasi, Windy menyarankan agar generasi sandwich pemula bisa mulai dengN jenis investasi yang memberikan imbal hasil pasti seperti, obligasi dan reksa dana. Income investasi yang didapatkan setiap bulannya dapat diinvestasikan kembali agar hasil lebih optimal.

4. Review berkala pos keuangan
Setelah melakukan ketiga hal di atas, anda perlu melakukan review berkala dari pos keuangan yang dimiliki. Hal ini dilakukan agar “bocor halus” pada pos keuangan tidak menjadi habit atau gaya hidup.

Anda juga perlu meninjau kembali kebutuhan proteksi dan investasi agar kedua instrumen yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan di setiap tahapan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*